AIAI Builder
Ilustrasi Sesi 01: Cara Ngomong Sama AI Biar Dia Ngerti
Kenalan sama AI Sesi 01 · 45 menit

Cara Ngomong Sama AI Biar Dia Ngerti

Sesi yang paling penting. Bedanya orang yang dapet hasil bagus sama yang dapet hasil sampah dari AI cuma satu hal — cara ngomongnya.

Aku pernah trial-error sama AI 6 bulan di Bantu AI. Prompt udah aku rapihin berkali-kali. Tapi output AI tetep ngambang: “tingkatkan kualitas”, “pertimbangkan strategi yang scalable”. Generic. Diplomatic. Hedging.

Kasih briefing jelas, AI balikin hasil yang rapi.

Sampai akhirnya aku berhenti nambahin prompt baru, dan duduk nulis cara aku berpikir: prinsip, taste, batas-batasnya. Hasilnya satu dokumen 8 halaman yang aku paste di awal setiap chat AI.

Dari hari itu, AI mulai kasih jawaban opinionated: “stop konten X, gak fit profil audience kamu”, “kalo metrik Y gak naik 15% dalam 30 hari, ganti angle”. Bukan diplomatic lagi.

Yang ngubah bukan tool baru. Bukan prompt yang lebih jago. Yang ngubah satu hal: konteks yang konsisten.


Diagnosis: Kenapa Hasil AI Generic

Coba sebut deh, kalimat pertama yang biasanya kamu tulis ke ChatGPT:

“Bikin caption Instagram buat produk skincare aku.”

Atau:

“Buatkan email follow-up ke client.”

Atau yang paling sering:

“Bantu aku bikin proposal untuk pitching.”

Tiga kalimat itu kelihatan jelas. Tapi buat AI, isinya gak ada satupun yang spesifik:

  • Caption Instagram buat siapa? Anak muda? Ibu-ibu? Owner bisnis?
  • Email follow-up dalam konteks apa? Setelah meeting? Setelah ghosting 2 minggu?
  • Proposal pitching ke siapa? Investor? Corporate? Pemerintah?

AI gak punya jawaban. Jadi dia tebak versi median dari pola yang dia tau. Yang masuk akal buat kebanyakan orang. Hasilnya: konten yang kedengeran benar tapi gak nempel sama kamu.

Itu bukan AI gagal. Itu kamu kasih dia bahan yang nol.


Frame Ulang: AI Itu Asisten, Bukan Mbah

Banyak orang anggap AI kayak mbah yang tau semuanya. Tanya sekali, terima jawaban final, kecewa kalo jawabannya generic.

Anggap AI itu asisten baru di kerjaan kamu. Hari pertama. Dia bawa modal banyak: pinter ngomong, pernah kerja di banyak tempat lain. Tapi dia gak tau kerjaan kamu spesifik kayak apa.

Kalo kamu bilang “kerjain yang bagus ya”, dia bakal kerjain sesuatu. Tapi belum tentu yang kamu mau.

Kalo kamu briefing lengkap, hasilnya bisa setara orang yang udah kerja sama kamu setahun.

Bedanya cuma di satu hal: briefing dulu, baru minta.


Resep: 4 Hal yang Wajib Disebut

Setiap kali kamu minta sesuatu serius ke AI, sebutin 4 hal:

Yang DisebutIsi
1. Aku siapa, lagi ngapainPeran kamu sekarang + situasi konkret
2. Apa yang aku mauSpesifik. Bukan “buatkan” doang. Buatkan apa, buat tujuan apa
3. Bentuknya kayak gimanaTabel? Paragraf? 5 caption? Email 3 paragraf? Draft proposal 800 kata?
4. Apa yang gak bolehPanjang max, bahasa, kata yang dilarang, klaim yang dilarang

Singkatannya gampang diinget: AMBG. Aku, Mau, Bentuk, Gak Boleh.

Empat menit nulis ini = 30 menit hemat revisi. Itungan yang jarang gagal.


Contoh Konkret: Caption Skincare

Kamu owner brand skincare lokal. Mau bikin 5 caption Instagram buat launch serum baru.

Cara Lama (Yang Biasa Kamu Tulis)

Bikin 5 caption Instagram untuk serum vitamin C baru aku.

AI keluarin caption yang isinya:

”✨ Glow up time! Yuk, kasih kulit kamu treatment terbaik dengan Serum Vitamin C terbaru kami 🌟 Dapatkan kulit cerah, sehat, dan bersinar dalam 7 hari! 💖”

Generic. Pake “yuk”, emoji api, klaim “kulit cerah dalam 7 hari”. Mirip semua caption skincare yang udah kamu skip pas scroll.

Cara Baru (AMBG)

Aku siapa, lagi ngapain:
Aku owner brand skincare lokal namanya GlowBeb. Customer aku
ibu-ibu 30-45 tahun yang baru mulai merhatiin kulit setelah
punya anak. Mereka udah skeptis sama klaim beauty influencer,
mau yang lebih jujur.

Apa yang aku mau:
5 caption untuk launch serum vitamin C baru. Tone-nya cerita,
bukan jualan. Pancing respon orang lewat pertanyaan di awal
atau di tengah.

Bentuknya kayak gimana:
5 caption. Maksimal 4 baris per caption. Kalimat pertama harus
narik perhatian. 3 hashtag di akhir.

Apa yang gak boleh:
Jangan pake "yuk", "kuy", "stay tuned". Maksimal 2 emoji per
caption, dan jangan emoji api. Jangan klaim "kulit putih dalam
X hari". Bukan brand kami.

Output AI sekarang:

“Kapan terakhir kamu ngaca dan beneran suka sama yang kamu liat?

Sejak punya anak, aku jarang banget jawab itu dengan jujur. Treatment favorit aku turun ke nomor 50 di daftar prioritas. Yang naik: ngurus orang lain.

Serum Vit-C kami bukan tentang glow up. Tentang 5 menit kamu di pagi hari yang masih punya buat diri sendiri.

#perawatandiri #ibumuda #skincarejujur”

Bandingin dua output di atas. Yang kedua langsung bisa pake. Yang pertama harus revisi 5-10 kali atau dibuang total.

Yang berubah bukan AI-nya. Yang berubah konteks yang kamu kasih.


Tiga Trik yang Worth Diapal

Trik 1: Kasih Contoh Konkret, Bukan Deskripsi Abstrak

❌ Deskripsi Abstrak✅ Contoh Konkret
”Bikin yang elegan""Elegan kayak iklan Apple: banyak ruang kosong, kalimat pendek, satu foto produk doang"
"Warna yang bagus""Warna terakota matte, kayak pot tanah liat yang baru diangkat dari oven"
"Tone yang friendly""Friendly kayak tetangga yang nyaranin warung soto, bukan kayak SPG yang ngejar target”

AI bisa nempel ke contoh. Deskripsi doang dia tafsir bebas.

Trik 2: Suruh AI Tanya Balik

Kalo kamu bingung konteks apa yang harus kamu kasih, suruh AI tanya duluan:

“Sebelum kamu kerjain, tanya aku dulu 5 hal spesifik yang kamu butuhin biar hasilnya bagus.”

Dia kasih 5 pertanyaan. Kamu jawab satu-satu. Baru dia eksekusi.

Cara ini bagus pas kamu udah tau output yang kamu mau bentuknya kayak apa, tapi belum punya bahasa buat jelasin.

Trik 3: Approve Outline Dulu, Baru Tulis Penuh

Buat hal panjang (artikel, proposal, email panjang), jangan langsung suruh nulis full.

Cara SalahCara Bener
AI nulis 1000 kata. Kamu baca, gak suka, minta revisi global. Hasilnya berubah total. Capek.AI bikin outline 5 poin. Kamu approve atau ganti arah. Baru dia tulis penuh. Cepet, arah-nya stay.

Lebih hemat 30-60 menit per piece panjang.


Latihan: Audit Prompt Kamu Sendiri

Ambil 1 kerjaan riil yang biasanya bikin kamu pusing. Yang kamu sering minta ke AI tapi hasilnya selalu butuh revisi banyak.

  1. Tulis ulang prompt yang biasanya kamu pake (cara lama)
  2. Tulis ulang pake AMBG (cara baru)
  3. Jalanin keduanya di ChatGPT atau Claude
  4. Catet: butuh revisi berapa kali untuk versi 1 vs versi 2?

Kalo selisihnya 5 revisi atau lebih, kamu udah dapet skill yang worth tahunan.


TL;DR

  • Hasil AI generic karena konteks yang kamu kasih nol.
  • Anggap AI itu asisten hari pertama, bukan mbah yang tau semua.
  • AMBG: Aku, Mau, Bentuk, Gak Boleh. 4 hal wajib disebut.
  • Kasih contoh konkret > deskripsi abstrak.
  • Approve outline dulu sebelum suruh AI tulis penuh.
  • Yang ngubah hasil AI bukan tool baru. Konteks yang konsisten.

Konteks itu mahal buat kamu nulis. Murah buat AI ngerjain. Salah satu trade yang paling worth diambil.