AI Builder
W1 Tools & Teknis 5 menit baca

Cara Ngomong ke AI yang Bener

Bedanya orang yang dapet hasil bagus vs jelek dari AI bukan karena AI-nya beda — tapi cara ngomongnya. Pelajari framework CTFC untuk prompting yang efektif.

AI itu powerful. Tapi AI yang dikasih prompt jelek = output sampah. Garbage in, garbage out.

Bedanya orang yang dapet hasil bagus vs jelek dari AI bukan karena AI-nya beda — tapi karena cara ngomongnya beda.

Di bootcamp ini, kamu akan ngobrol sama AI setiap hari. Artikel ini kasih kamu framework supaya setiap percakapan menghasilkan sesuatu yang berguna.


Masalah Utama: Prompt Tanpa Konteks

Ini yang kebanyakan orang lakuin:

"Buatkan website untuk jualan baju"

Hasilnya? Generic. Nggak ada personality. Nggak sesuai kebutuhan spesifik kamu. Kamu akhirnya revisi 10 kali, frustasi, dan nyimpulin “AI nggak berguna.”

Bukan AI-nya yang bermasalah. Prompt-nya yang kurang konteks.


Framework CTFC

Setiap kali ngomong ke AI, pastikan prompt kamu punya 4 komponen:

C — Context (Situasi)

Kasih tahu AI siapa kamu dan apa situasinya.

Tanpa ContextDengan Context
”Buatkan landing page""Saya founder non-technical yang lagi build app tracking keuangan untuk freelancer Indonesia. Saya pakai React + Vite + Tailwind CSS.”

T — Task (Tugas)

Kasih tahu AI apa yang kamu mau — spesifik.

Task KaburTask Spesifik
”Buatkan halaman""Buatkan halaman landing page dengan hero section yang jelasin masalah (freelancer susah track pemasukan) dan CTA untuk sign up”

F — Format (Bentuk Output)

Kasih tahu AI output-nya harus berbentuk apa.

Tanpa FormatDengan Format
”Kasih ide marketing""Kasih 5 ide marketing dalam format tabel: kolom 1 = ide, kolom 2 = channel, kolom 3 = estimasi effort (low/med/high)“

C — Constraints (Batasan)

Kasih tahu AI apa yang NGGAK BOLEH atau batasan yang harus diikuti.

Tanpa ConstraintsDengan Constraints
”Bikin copy buat app""Bikin copy dalam Bahasa Indonesia casual, maksimal 50 kata per section, jangan pakai jargon teknis, target audience: freelancer 25-35 tahun”

Contoh CTFC Lengkap

Prompt Jelek:

Buatkan halaman about untuk website saya.

Prompt Bagus (CTFC):

Context: Saya sedang membangun app "CuanTrack" — app tracking
keuangan untuk freelancer Indonesia. Tech stack: React + Vite +
Tailwind CSS. Brand tone: casual, supportive, nggak menggurui.

Task: Buatkan halaman About yang menceritakan kenapa app ini
dibuat — dari perspektif founder yang juga freelancer dan pernah
nggak tahu berapa income beneran selama 2 tahun.

Format: React component dengan Tailwind CSS. Bagi jadi 3 section:
origin story, misi, dan CTA ajakan join.

Constraints:
- Bahasa Indonesia natural, bukan bahasa marketing korporat
- Nggak lebih dari 200 kata total copy
- Mobile-first responsive
- Jangan pakai gambar placeholder, pakai emoji atau icon sebagai
  visual

Lihat bedanya? AI yang dikasih prompt kedua akan menghasilkan sesuatu yang langsung bisa dipakai, bukan sesuatu yang harus direvisi 10 kali.


Skill/Guideline: Level Selanjutnya

Setelah kamu nyaman dengan CTFC, ada satu teknik lagi yang bikin prompt jauh lebih powerful: kasih AI “skill” atau “guideline”.

Apa Maksudnya?

Daripada jelaskan konteks dari awal setiap kali, kamu bikin dokumen terpisah yang berisi panduan tentang produk/brand kamu, lalu minta AI pakai itu sebagai referensi.

Contoh Brand Guideline sederhana:

# CuanTrack Brand Guidelines

## Voice & Tone
- Casual, kayak ngobrol sama temen
- Supportive, bukan menggurui
- Pakai "kamu", bukan "Anda"
- Boleh pakai slang Indonesia (nggak, banget, deh)
- Nggak pakai emoji berlebihan

## Target User
- Freelancer Indonesia, 25-35 tahun
- Punya multiple income streams
- Tech-savvy tapi bukan developer
- Frustrasi dengan keuangan yang nggak terorganisir

## Key Messages
- "Tahu kondisi keuangan kamu, tanpa ribet"
- "Dari freelancer, untuk freelancer"
- "Nggak perlu jadi akuntan buat ngerti duit sendiri"

Setelah punya ini, prompt kamu jadi:

[paste brand guideline di atas]

Sekarang, buatkan copy untuk halaman pricing CuanTrack.
3 tier: Free, Pro (99K/bln), Business (299K/bln).
Format: tabel perbandingan fitur.

Hasilnya akan konsisten dengan semua halaman lain yang pakai guideline yang sama.


Tips Prompt untuk Debugging

Saat kamu stuck dan butuh bantuan AI, pakai template ini:

Context: Saya sedang build [apa] pakai [tech stack].

Masalah: [jelaskan apa yang terjadi]

Error message:
[copy-paste error lengkap]

File yang bermasalah:
[paste code yang relevan — nggak perlu semua file]

Yang sudah saya coba:
- [usaha 1]
- [usaha 2]

Pertanyaan: [apa yang mau kamu tahu]

Penting: Copy-paste error lengkap. Jangan parafrase. Jangan crop. AI butuh error message persis untuk kasih solusi yang tepat.


Tips Prompt untuk Generate Code

Context: [tech stack, apa yang sudah ada]

Task: [fitur apa yang mau dibikin]

Requirements:
- [requirement 1]
- [requirement 2]
- [requirement 3]

Constraints:
- [apa yang NGGAK boleh]
- [batasan teknis]
- [batasan style/design]

Kasih penjelasan singkat untuk setiap bagian code, supaya saya
paham apa yang terjadi.

Baris terakhir itu penting. Kamu nggak perlu paham setiap baris code. Tapi kamu perlu paham secara garis besar apa yang terjadi. Supaya kalau ada bug, kamu tahu harus nanya di mana.


Anti-Pattern: Prompt yang Harus Dihindari

JanganGantinya
”Bikin app keuangan”Terlalu luas. Spesifikasi: app apa? fitur apa? untuk siapa?
”Fix error ini” (tanpa context)Tambahin: file mana, lagi ngapain, error lengkap
”Bikin yang bagus”Definisiin “bagus”: responsive? fast? accessible?
”Terserah kamu aja”AI nggak punya taste. Kamu yang direct, AI yang eksekusi.
Prompt 1000 kata nggak terstrukturPecah jadi CTFC. Clear structure > long paragraph.

Mindset: Kamu Sutradara, AI Tim Eksekusi

Cara terbaik untuk mikirin hubungan kamu dan AI:

  • Kamu = sutradara. Kamu yang punya visi. Kamu yang tahu mau ke mana. Kamu yang kasih arahan.
  • AI = tim produksi. Mereka yang eksekusi: nulis code, bikin copy, generate ide. Mereka sangat capable — tapi mereka butuh arahan yang jelas.

Sutradara yang bilang “bikin film yang bagus” tanpa script, tanpa shot list, tanpa brief → hasilnya kacau. Sutradara yang kasih brief detail, reference visual, tone yang diinginkan → hasilnya sesuai visi.

Kamu nggak perlu jadi cameraman. Tapi kamu perlu jadi sutradara yang baik.


Latihan: Coba Sekarang

  1. Buka Google AI Studio (atau ChatGPT/Claude).
  2. Tulis prompt CTFC untuk salah satu dari ini:
    • Deskripsi produk untuk ide app kamu (1 paragraf)
    • Email ke calon beta user yang mengajak mereka coba app kamu
    • 5 nama alternatif untuk app kamu
  3. Jalankan prompt. Lihat hasilnya.
  4. Sekarang hilangkan Context — jalankan lagi. Bandingkan hasilnya. Beda nggak?

TL;DR

  • Prompt tanpa konteks = output sampah. Selalu pakai CTFC: Context, Task, Format, Constraints.
  • Level up: bikin brand guideline → paste di awal setiap prompt → output konsisten.
  • Debugging: selalu kasih error lengkap + konteks + yang sudah dicoba.
  • Kamu sutradara, AI tim eksekusi. Arahan jelas = hasil bagus.

Baca Juga